Rabu, 19 Januari 2011

fiqh safi'i

BAB V
MENGQASAR SHALAT
(MERINGKAS SHALAT)
Bagi musafir diperbolehkan mengqashar shalat, yang asalnya 4 (empat) rakaat menjadi 2 (dua) rakaat. Hal ini disyariatkan oleh Allah SWT karena diduga kuat dalam safar itu terjadi sesuatu kesulitan, maka Allah SWT memberi keringanan untuk menqashar shalat.
Firman Allah:

Artinya: “Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu menqashar sembahyang (mu)”. (Q.S. an-Nisa ayat 101).
Sabda Rasulullah Saw menjawab pertanyaan Umar bin Khattab tentang ayat di atas:
صدقة تصدق الله بـها عليكم فاقبلوا صدقته (رواه مسلم)
Artinya: ”Bahwa mengqashar shalat adalah shadaqah dari Allah kepadamu, maka terimalah shadaqahNya”. (H.R.
وعن ابن عمر رضى الله عنه: سافرت مع رسول الله صلى الله عليه وسلم وابى بكر وعمر وكانوا يصلون الظهر والعصر ركعتين ركعتين (اخرجه الشيخان)
Artinya: “Dari Ibnu Umar r.a.: “Aku telah mengadakan perjalanan bersama Rasulullah, Abu Bakar dan Umar, mereka melaksanakan shalat Dhuhur dan ‘Ashar dua rakaat, dua rakaat”. (Dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim).
A. Syarat safar (perjalanan)
Disyaratkan bagi safar yang diperbolehkan mengqashar shalat beberapa hal:
1. Safar yang ditempuh bukan safar maksiat tetapi safar untuk melaksanakan suatu kewajiban, seperti safar untuk menunaikan ibadah haji atau membayar utang. Safar sunat seperti silaturahmi dan safar yang diperbolehkan seperti berdagang atau berdarma wisata.
Adapun jika safar yang ditempuhnya safar maksiat seperti safar untuk mengambil minuman keras, merampok, wanita yang nusuz dari suaminya dan lain sebagainya, maka tidak diperbolehkan mengqashar shalat.
2. Safar (perjalanan) yang ditempuhnya berjarak jauh, yaitu dua hari perjalanan dengan jalan kaki atau ± 84 (delapan puluh empat) KM.
Ibnu Abbas berkata:
لاتقصر الصلاة فى اقل من اربعة برد بين مكة وعسفان
Artinya: “Tidak diqashar shalat jika kurang dari 4 (empat) barod yaitu antara Mekah dan Usfan”.
Sedangkan jarak antara Mekah dengan Usfan dapat ditempuh dalam 2 (dua) hari perjalanan.
3. Shalat yang diqashar itu adalah shalat ada’ (kontan) yang 4 (empat) rakaat bukan shalat yang diqadha.
Jika seseorang ketiduran atau lupa mengerjakan shalat di waktu berada di kampung halamannya, kemudian dia mengqadhanya di waktu safar maka shalat itu tidak boleh diqashar; begitu juga sebaliknya. Jika dia tertinggal shalat di waktu safar kemudian dia mengqadhanya di kampung halamannya setelah tiba dari safar, maka tidak boleh diqashar.
Adapun syarat mengqashar shalat ada 5 (lima) hal:
a. Niat qashar.
Jika tidak berniat qashar maka shalatnya harus tetap di sempurnakan 4 (empat) rakaat.
b. Mengqashar shalat itu harus di perjalanan, tidak boleh sebelum berangkat atau setelah tiba kembali ke rumah, karena firman Allah:
واذا ضربتم فى الارض
artinya: “Dan apabila kamu bepergian di muka bumi”.
c. Mengetahui bahwa shalat itu boleh diqashar
Bagi orang yang tidak tahu bahwa shalat itu boleh diqashar, tidak boleh mengqashar shalat. Firman Allah:

Artinya: “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui”. (Q.S. an-Nahl ayat 43)
d. Tidak boleh bermakmum kepada imam yang shalatnya di sempurnakan 4 (empat) rakaat atau bermakmum kepada orang yang mukim (berada di kampung halamannya), karena orang yang mukim tidak diperbolehkan mengqashar shalat.
e. Shalat yang diqashar adalah shalat yang 4 (empat) rakaat yaitu Dhuhur, ‘Ashar dan ‘Isya; jadi tidak boleh mengqashar shalat magrib dan subuh.
B. Kapan musafir mulai boleh mengqashar shalat
Seorang musafir tidak diperbolehkan mengqashar shalat sebelum meninggalkan bangunan-bangunan di tempat yang dia tinggalkan.
Ibnu Mundzir berkata: “Aku tidak pernah mengetahui bahwa sesungguhnya Rasulullah Saw mengqashar shalat dalam safarnya dari beberapa safar yang dilaksanakan oleh beliau kecuali setelah beliau keluar dari kota Madinah”.
Seorang musafir diperbolehkan mengqashar shalat selama dia berada didalam perjalanan. Jika dia bermukim di suatu tempat karena sesuatu hajat (kebutuhan) dia boleh mengqasharnya selama 4 (empat) hari kemudian sesudah itu dia harus menyempurnakan shalatnya 4 (empat) rakaat, baik dia telah menyelesaikan hajatnya maupun belum menyelesaikannya. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dikatakan:
انه صلى الله عليه وسلم قدم مكة صبيحة رابعة من ذى الحجة فأقام بـها الرابع والخامس والسادس والسابع وصلى الصبح فى اليوم الثامن ثـم خرج الى منى فلما اقام صلى الله عليه وسلم بـمكة اربعة ايام يقصر الصلاة وكان عازما على الاقامة الى ان يعمل اعمال الحج.
Artinya: “Bahwa Nabi Saw telah datang ke Mekah pada subuh hari ke empat dari bulan Dzulhijjah, lalu beliau tinggal di Mekah hari ke empat, ke lima, ke enam dan ke tujuh, dan beliau shalat subuh pada hari ke delapan lalu pergi ke Mina dan setelah Rasulullah Saw bermukim kembali di Mekah selama 4 (empat) hari beliau mengqashar shalat dan beliau bermaksud bermukim sampai menyelesaikan seluruh rangkaian amalan haji”.
Hadits ini menunjukan bahwa orang yang bermaksud bermukim di suatu tempat dalam waktu yang di tentukan dia boleh mengqashar shalat selama 4 (empat) hari dan setelah itu dia menyempurnakan lagi shalatnya, sebagaimana hal itu pernah di perbuat oleh Rasulullah Saw.
Imam Syafi’i berkata: “Sesungguhnya Rasulullah Saw pernah mengqashar shalat selama 19 (sembilan belas) hari atau 18 (delapan belas) hari”.
عن ابن عباس رضى الله عنه قال: اقام النبى صلى الله عليه وسلم فى بعض اسفاره تسع عشرة يصلى ركعتين فنحن اذا اقمنا تسع عشرة نصلى ركعتين واذا زدنا على ذلك اتـممنا (رواه البخارى ومسلم)
Artinya: “Dari Ibnu Abbas r.a. dia berkata: “Nabi Saw telah bermukim pada sebagian perjalanannya selama 19 (sembilan belas) hari, beliau melakukan shalat 2 (dua) rakaat, maka kami pun jika bermukim selama 19 (sembilan belas) hari, kami pun melakukan shalat 2 (dua) rakaat dan apabila kami bermukim lebih dari 19 (sembilan belas) hari, maka kami menyempurnakan shalat”. (H.R. Bukhari dan Muslim).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar